What.I.Get.is.What.I.Write
Orang berhasil atau gagal. Begitulah biasanya kita menilai orang-orang di sekeliling. Apapun bisnis, profesi maupun pekerjaannya. Ada pengusaha sukses, ada pengusaha yang biasa-biasa saja. Ada karyawan yang berhasil mencapai karier bagus, ada pula yang kariernya kurang menguntungkan. Siapa pun ingin masuk kategori yang berhasil alias sukses.
Namun, bagaimana caranya? Mengapa seseorang bisa berhasil, sementara yang lain gagal? Itulah masalahnya. Menariknya keberhasilan seseorang ternyata tidak berhubungan dengan jenis kelamin. Sebab, dalam barisan orang sukses pada semua bidang selalu ada perempuan dan laki-laki. Ukuran tubuh juga tidak menjamin sebuah sukses. Karena, sebagian mereka jangkung dan sebagian lagi sedang-sedang saja. Daerah asal juga begitu. Mereka datang dari berbagai penjuru.
Tidak pula dengan masalah latar belakang pendidikan, sebab beragam sekali pendidikan mereka. Memang ukuran keberhasilan yang dimaksud akan berbeda-beda bagi setiap orang. Tetapi, ada kesamaannya: mereka disebut orang berhasil dan memiliki kehidupan bahagia, yakni mereka berkemampuan membangun hubungan yang baik dengan orang lain. Coba perhatikan sekeliling kita.
Apakah orang sukses itu, misal yang melesat dalam karier sampai ke puncak, adalah orang yang paling pandai di bidangnya dari orang-orang yang Anda tahu? Atau, mereka adalah orang-orang ”pandai bergaul” dan mampu berkomunikasi yang baik dengan banyak orang? Mereka yang berhasil dan mempunyai kualitas hidup yang baik rupanya tipe orang yang bukan pemalu, tidak canggung, dan tidak rendah diri. Sebaliknya mereka yang gagal atau merasa sulit dalam hubungan manusia biasanya pemalu, canggung, dan tidak percaya diri, serta menjauhkan diri dari
masyarakat.
Masalahnya banyak sekali orang merasa pandai bergaul dan banyak punya teman sejati walaupun dalam hatinya tahu ada kekurangan dari dirinya. Mereka merasa heran mengapa karyawan, bawahan, atau rekan sekerja bahkan keluarganya tidak menghargainya. Mereka sulit mendapat sikap kerjasama secara suka rela dan suka cita dari sekitarnya. Mereka bertanya-tanya sendiri mengapa harus selalu memaksa dan memerintah bahkan keluar uang banyak untuk mendapat persetujuan orang lain.
Sesungguhnya kemampuan membina hubungan manusia sama saja dengan keterampilan di bidang lain. Kita akan sukses dalam berhubungan manusia, selalu mendapat persetujuan dan dukungan orang lain, bila telah menguasai prinsip-prinsip dasarnya. Antara lain, bagaimana berharganya ego bagi setiap orang, sehingga ego itu harus dipuaskan dan tidak boleh merasa terancam. Bahwa setiap orang lebih tertarik membicarakan diri sendiri. Bahwa setiap orang selalu ingin dipentingkan. Bahwa setiap orang mengharapkan persetujuan dari orang lain.
Denga kata lain, orang lain akan memberi memberikan persetujuan dan dukungan kepada Anda kalau Anda telah memenuhi dan memuaskan kebutuhan ego dan memberi pesertujuan kepadanya. Anda tidak perlu ragu melakukannya. Ibarat menabur investasi kebaikan maka kebaikan yang berlipat besarnya yang dituai. Benih kebaikan yang perlu kita tabur antara lain pujian tulus, senyuman, sikap positif, antusias terhadap pendapatnya, tidak mengritik di depan umum, tidak menempatkan diri sebagai pesaingnya, memberi dorongan dan bersedia orang lain membicarakan dirinya.
Bersamaan dengan itu, jangan lupa mempelihatkan pesona kepribadian Anda. Misalnya, cara berjalan Anda. Sebab tindakan fisik sesorang membuktikan kondisi mentalnya. Seperti tatkala melihat orang yang berjalan dengan pundak terkulai, maka kesan yang kita terima adalah dia seolah memikul beban begitu berat sehingga kehilangan semangat. Orang yang selalu melihat ke bawah mengesankan orang yang pesimis dan ragu-ragu.
Hal lain adalah cara Anda menjabat tangan orang lain. Jabatan yang mantap menunjukkan Anda seorang yang percaya diri. Sebaliknya jika cara Anda menggenggam tangan orang lain dengan lunglai akan mengesankan percaya diri yang rendah. Contoh lain adalah nada suara. Suara tidak hanya alat mengekspresikan pendapat saja, tapi juga dapat memperlihtakan apakan kepribadian Anda yang sering mengeluh atau penuh keyakinan. *) Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional
Sumber: Membina Hubungan oleh Mien R. Uno, Lembaga Pendidikan DUTA
BANGSA Empower Yourself
Leave a reply