What.I.Get.is.What.I.Write
Ini merupakan artikel pembukaan untuk pembahasan tentang FIREWALL, jenis aplikasi yang saya gunakan adalah IPTABLES. Saya akan memposting artikel secara berkala, agar pembaca tidak pusing dalam membaca artikel saya …hehehe… pada postingan terakhir saya akan merangkum dan mengupload artikel ini secara lengkap sehingga pembaca dapa mendownload artikel dalam format pdf secara lengkap. Langsung saja kita mulai…
![]()

Firewall adalah sebuah sistem yang berguna untuk mengamankan suatu wilayah dalam hal ini adalah suatu lingkungan sistem agar terlindungi dari hal-hal yang tidak diinginkan, firewall akan memfilter apa saja yang diperbolehkan masuk dalam sustu lingkungan sistem, jadi firewall bisa berupa apapun baik hardware maupun software. Firewall dapat digunakan untuk memfilter paket-paket dari luar dan dalam jaringan dimana ia berada. Jika pada kondisi normal semua orang dari luar jaringan anda dapat bermain-main ke komputer anda, dengan firewall semua itu dapat diatasi dengan mudah.
Firewall merupakan perangkat jaringan yang berada di dalam kategori perangkat Layer 3 (Network layer) dan Layer 4 (Transport layer) dari protokol 7 OSI layer. Seperti diketahui, layer 3 adalah layer yang mengurus masalah pengalamatan IP, dan layer 4 adalah menangani permasalahan port-port komunikasi (TCP/UDP). Pada kebanyakan firewall, filtering belum bisa dilakukan pada level data link layer atau layer 2 pada 7 OSI layer. Jadi dengan demikian, sistem pengalamatan MAC dan frame-frame data belum bisa difilter. Maka dari itu, kebanyakan firewall pada umumnya melakukan filtering dan pembatasan berdasarkan pada alamat IP dan nomor port komunikasi yang ingin dituju atau diterimanya.
Artikel selanjutnya saya akan membahas tentang IPTABLES.
Betapa hebatnya waktu mengatur kita. Ketika lonceng jam usai kerja berdering, tanpa diperintah segera kita berkemas. Menyimpan kertas dan pensil dalam laci, lalu meninggalkannya jauh-jauh. Seolah semua persoalan telah terpecahkan untuk hari itu. Padahal masalah tetap terjaga selagi kita pejamkan mata.
Namun, esok hari, ketika lonceng jam mulai kerja berdentang, semua tumpukan masalah kita aduk, seolah ia terlampau banyak tidur semalam. Perselisihan pun bolehlah dilanjutkan kembali. Ah, betapa hebatnya waktu menghibur kita. Betapa bergairahnya waktu membangunkan kita.
Dua orang pengayuh becak mencari penumpang di depan sebuah mall. Kemarin, yang seorang rajin menawarkan becak pada pengunjung yang lalu lalang dan mendapat banyak pemasukan. Sedangkan yang lain, seharian hanya berteduh dari terik, harus puas dengan uang tak seberapa. Tetapi, esok hari, situasi berbalik. Ia yang rajin menjajakan becaknya nyaris tak membawa uang pulang. Malah yang duduk-duduk di bangku becaknya dihampiri penumpang.
Mengapa ada kenyataan seperti ini? Ada orang rajin bekerja lalu menerima imbalan yang menyenangkan. Kita sebut itu “usaha”. Ada orang seolah tak melakukan apa, malah mendapat hasil tiada kepalang. Kita bilang itu “keberuntungan”. Bagi yang tak menemukan jawaban, hanya bergumam, “Yah, itulah bola nasib.”
Sesungguhnya hampir-hampir kita tak berkuasa atas diri kita sendiri. Kita tak mampu memerintahkan segores luka untuk sembuh semau kita – apalagi kuasa penuh atas roda kehidupan ini. Karenanya, orang bijak tak henti bertutur agar kita tetap bekerja sekuat tenaga, jangan terlepas dari doa dan harapan, namun setelah itu serahkan semuanya pada kehendak Penguasa Semesta; berserah diri sepenuhnya.
Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)
Segala yang di bawah langit pasti berubah. Hanya satu hal yang tetap sepanjang masa, yaitu perubahan itu sendiri. semua orang sudah mahfum dengan perkataan ini. Tetapi, tidak semua paham bahwa setiap perubahan selalu datang sambil bergandengan dengan segudang peluang atau pilihan.
Saya membicarakannya karena tergelitik kampanye internal salah satu biro iklan besar di Indonesia. ”Berubah atau Punah.” Begitu yang terbaca pada spanduk kecil yang terpampang pada sudut-sudut kantor biro iklan yang berada di salah satu gedung jangkung di Jakarta.
Read the rest of this entry »