<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Noersilo &#124; Tangguh &#187; Ibu</title>
	<atom:link href="http://kamar.noersilo.web.id/tag/ibu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kamar.noersilo.web.id</link>
	<description>What.I.Get.is.What.I.Write</description>
	<lastBuildDate>Fri, 11 Jun 2010 16:04:01 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.3</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>[IBU] Renungan IV</title>
		<link>http://kamar.noersilo.web.id/2009/07/iburenungan-4/</link>
		<comments>http://kamar.noersilo.web.id/2009/07/iburenungan-4/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jul 2009 23:00:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>noersilo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[mama]]></category>
		<category><![CDATA[mother]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://noersilo.wordpress.com/?p=168</guid>
		<description><![CDATA[&#8221; Nak, bangun&#8230; udah adzan subuh. Sarapanmu udah ibu siapin di meja&#8230; &#8220;
Tradisi ini sudah berlangsung 20 tahun, sejak pertama kali aku bisa mengingat.
Kini usiaku sudah kepala 3 dan aku jadi seorang karyawan disebuah Perusahaan Tambang, tapi kebiasaan Ibu tak pernah berubah.
&#8221; Ibu sayang&#8230; ga usah repot-repot Bu, aku dan adik-adikku udah dewasa &#8221; pintaku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">&#8221; Nak, bangun&#8230; udah adzan subuh. Sarapanmu udah ibu siapin di meja&#8230; &#8220;</p>
<p style="text-align:justify;">Tradisi ini sudah berlangsung 20 tahun, sejak pertama kali aku bisa mengingat.</p>
<p style="text-align:justify;">Kini usiaku sudah kepala 3 dan aku jadi seorang karyawan disebuah Perusahaan Tambang, tapi kebiasaan Ibu tak pernah berubah.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8221; Ibu sayang&#8230; ga usah repot-repot Bu, aku dan adik-adikku udah dewasa &#8221; pintaku pada Ibu pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah.</p>
<p style="text-align:justify;">Pun ketika Ibu mengajakku makan siang di sebuah restoran.</p>
<p style="text-align:justify;">Buru-buru kukeluarkan uang dan kubayar semuanya. Ingin kubalas jasa Ibu selama ini dengan hasil keringatku. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kenapa Ibu mudah sekali sedih ? Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami Ibu karena dari sebuah artikel yang kubaca&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan cenderung untuk bersikap<br />
kanak-kanak &#8230;..</p>
<p><span id="more-168"></span></p>
<p style="text-align:justify;">tapi entahlah&#8230;. Niatku ingin membahagiakan malah membuat Ibu sedih.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti biasa, Ibu tidak akan pernah mengatakan apa-apa</p>
<p style="text-align:justify;">Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya,</p>
<p style="text-align:justify;">&#8221; Bu, maafin aku kalau telah menyakiti perasaan Ibu. Apa yang bikin Ibu sedih ? &#8220;</p>
<p style="text-align:justify;">Kutatap sudut-sudut mata Ibu, ada genangan air mata di sana . Terbata-bata Ibu berkata, &#8221; Tiba-tiba Ibu merasa kalian tidak lagi membutuhkan Ibu. Kalian sudah dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Ibu tidak boleh lagi menyiapkan sarapan untuk kalian, Ibu tidak bisa lagi jajanin kalian. Semua sudah bisa kalian lakukan sendiri &#8220;</p>
<p style="text-align:justify;">Ah, Ya Allah, ternyata buat seorang Ibu .. bersusah payah melayani putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Satu hal yang tak pernah kusadari sebelumnya. Niat membahagiakan bisa jadi malah membuat orang tua menjadi sedih karena kita tidak berusaha untuk saling membuka diri melihat arti kebahagiaan dari sudut pandang masing-masing.</p>
<p style="text-align:justify;">Diam-diam aku bermuhasabah. .. Apa yang telah kupersembahkan untuk Ibu dalam usiaku sekarang ? Adakah Ibu bahagia dan bangga pada putera putrinya ?</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika itu kutanya pada Ibu, Ibu menjawab, &#8221; Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kalian berikan pada Ibu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalian tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan .</p>
<p>Kalian berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat Ibu.</p>
<p>Kalian berprestasi di pekerjaan adalah kebanggaan buat Ibu .</p>
<p>Setelah dewasa, kalian berprilaku sebagaimana seharusnya seoranghamba,</p>
<p>itu kebahagiaan buat Ibu. Setiap kali binar mata kalian mengisyaratkan kebahagiaan di situlah kebahagiaan orang tua.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Lagi-lagi aku hanya bisa berucap,</p>
<p style="text-align:justify;">&#8221; Ampunkan aku ya Allah kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang kuberikan kepada Ibu. Masih banyak alasan ketika Ibu menginginkan sesuatu. &#8220;</p>
<p style="text-align:justify;">Betapa sabarnya Ibuku melalui liku-liku kehidupan. Sebagai seorang wanita karier seharusnya banyak alasan yang bisa dilontarkan Ibuku untuk &#8220;cuti&#8221; dari pekerjaan rumah atau menyerahkan tugas itu kepada pembantu. Tapi tidak!</p>
<p style="text-align:justify;">Ibuku seorang yang idealis. Menata keluarga, merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang takkan bisa dilimpahkan kepada siapapun.</p>
<p style="text-align:justify;">Pukul 3 dinihari Ibu bangun dan membangunkan kami untuk tahajud.</p>
<p style="text-align:justify;">Menunggu subuh Ibu ke dapur menyiapkan sarapan sementara aku dan adik-adik sering tertidur lagi&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Ah, maafin kami Ibu &#8230; 18 jam sehari sebagai &#8220;pekerja&#8221; seakan tak pernah membuat Ibu lelah..</p>
<p style="text-align:justify;">Sanggupkah aku ya Allah ?</p>
<p style="text-align:justify;">&#8221; Nak&#8230; bangun nak, udah azan subuh .. sarapannya udah Ibu siapin dimeja..</p>
<p style="text-align:justify;">&#8221; Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul Ibu sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya lekat-lekat dan kuucapkan, &#8221; Terimakasih Ibu, aku beruntung sekali memiliki Ibu yang baik hati, ijinkan aku membahagiakan Ibu&#8230;&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan. .. Cintaku ini milikmu, Ibu&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Aku masih sangat membutuhkanmu. .. Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat dirimu..</p>
<p style="text-align:justify;">Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat &#8220;aku sayang padamu&#8230; &#8220;, namun begitu, Rasulullah menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai karena Allah.</p>
<p style="text-align:justify;">Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita &#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Ibu dan ayah walau mereka tak pernah meminta dan mungkin telah tiada.</p>
<p style="text-align:justify;">Percayalah.. . kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan</p>
<p>bahagia.</p>
<p style="text-align:justify;">Wallaahua&#8217;lam</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ya Allah, cintai Ibu dan ayahku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan mereka&#8230;, dan jika saatnya nanti mereka Kau panggil, panggillah dalam keadaan khusnul khatimah.</p>
<p style="text-align:justify;">Ampunilah segala dosa-dosanya dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi aku selagi aku kecil &#8220;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Titip Ibu dan ayahku ya Allah&#8221;</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" src="http://emo.huhiho.com/set/babysoldier/76.gif" alt="" width="80" height="80" /></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">dikutip dari forum kebanggan anak muda indonesia.<a href="http://www.kaskus.us"> kaskus.us</a></p>
<h3>Silahkan baca juga :</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://kamar.noersilo.web.id/2009/06/renungan-iii/" title="IBU [Renungan III]">IBU [Renungan III]</a></li>
<li><a href="http://kamar.noersilo.web.id/2009/04/renungan-ii/" title="IBU [Renungan II]">IBU [Renungan II]</a></li>
<li><a href="http://kamar.noersilo.web.id/2008/12/renungan-1/" title="IBU [Renungan 1]">IBU [Renungan 1]</a></li>
<li><a href="http://kamar.noersilo.web.id/2009/02/rahasia-kecerdasan-yahudi/" title="(benerkah)Rahasia Kecerdasan Yahudi ??">(benerkah)Rahasia Kecerdasan Yahudi ??</a></li>
<li><a href="http://kamar.noersilo.web.id/2008/12/mempersiapkan-akhir-tahun/" title="Mempersiapkan Akhir Tahun">Mempersiapkan Akhir Tahun</a></li>
</ul>
<hr /><small>Copyright &copy; 2008<br /> This feed is for personal, non-commercial use only. <br /> The use of this feed on other websites breaches copyright. If this content is not in your news reader, it makes the page you are viewing an infringement of the copyright. (Digital Fingerprint:<br /> )</small> <img src="http://kamar.noersilo.web.id/wp-content/plugins/feed-statistics.php?view=1&post_id=168" width="1" height="1" style="display: none;" /><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fkamar.noersilo.web.id%2F2009%2F07%2Fiburenungan-4%2F&amp;linkname=%5BIBU%5D%20Renungan%20IV"><img src="http://kamar.noersilo.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kamar.noersilo.web.id/2009/07/iburenungan-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IBU [Renungan III]</title>
		<link>http://kamar.noersilo.web.id/2009/06/renungan-iii/</link>
		<comments>http://kamar.noersilo.web.id/2009/06/renungan-iii/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2009 23:00:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>noersilo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[mama]]></category>
		<category><![CDATA[mother]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://noersilo.wordpress.com/?p=163</guid>
		<description><![CDATA[
Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.
berikit kebohongannya :


Cerita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><img class="alignnone" src="http://i298.photobucket.com/albums/mm266/susilo_pras/mother_and_daughter_by_xcgirl08.jpg" alt="" width="231" height="240" /></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.</p>
<p style="text-align:justify;">berikit kebohongannya :</p>
<p><span id="more-163"></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata: &#8220;Makanlah nak, aku tidak lapar&#8221;<strong> .KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA<br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk di sampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sendokku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : &#8220;Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan&#8221;. <strong>KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata :&#8221;Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.&#8221; Ibu tersenyum dan berkata :&#8221;Cepatlah tidur nak, aku tidak capek&#8221;.  <strong>KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :&#8221;Minumlah nak, aku tidak haus!&#8221;. <strong>KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : &#8220;Saya tidak butuh cinta&#8221; . <strong>KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA</strong></p>
<p>Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : &#8220;Saya punya duit&#8221;. <strong>KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM</strong></p>
<p>Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku &#8220;Aku tidak terbiasa&#8221;. <strong>KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : &#8220;jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan&#8221;. <strong>KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : &#8221; Terima kasih ibu !&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita? Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi..</p>
<p style="text-align:justify;">Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata &#8220;MENYESAL&#8221; di kemudian hari.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" src="http://emo.huhiho.com/set/babysoldier/81.gif" alt="" width="80" height="80" /></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">dikutip dari <a href="http://www.kaskus.us">kaskus.us</a></p>
<h3>Silahkan baca juga :</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://kamar.noersilo.web.id/2009/07/iburenungan-4/" title="[IBU] Renungan IV">[IBU] Renungan IV</a></li>
<li><a href="http://kamar.noersilo.web.id/2009/04/renungan-ii/" title="IBU [Renungan II]">IBU [Renungan II]</a></li>
<li><a href="http://kamar.noersilo.web.id/2008/12/renungan-1/" title="IBU [Renungan 1]">IBU [Renungan 1]</a></li>
<li><a href="http://kamar.noersilo.web.id/2009/02/rahasia-kecerdasan-yahudi/" title="(benerkah)Rahasia Kecerdasan Yahudi ??">(benerkah)Rahasia Kecerdasan Yahudi ??</a></li>
<li><a href="http://kamar.noersilo.web.id/2008/12/mempersiapkan-akhir-tahun/" title="Mempersiapkan Akhir Tahun">Mempersiapkan Akhir Tahun</a></li>
</ul>
<hr /><small>Copyright &copy; 2008<br /> This feed is for personal, non-commercial use only. <br /> The use of this feed on other websites breaches copyright. If this content is not in your news reader, it makes the page you are viewing an infringement of the copyright. (Digital Fingerprint:<br /> )</small> <img src="http://kamar.noersilo.web.id/wp-content/plugins/feed-statistics.php?view=1&post_id=163" width="1" height="1" style="display: none;" /><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fkamar.noersilo.web.id%2F2009%2F06%2Frenungan-iii%2F&amp;linkname=IBU%20%5BRenungan%20III%5D"><img src="http://kamar.noersilo.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kamar.noersilo.web.id/2009/06/renungan-iii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IBU [Renungan II]</title>
		<link>http://kamar.noersilo.web.id/2009/04/renungan-ii/</link>
		<comments>http://kamar.noersilo.web.id/2009/04/renungan-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Apr 2009 23:00:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>noersilo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[mama]]></category>
		<category><![CDATA[mother]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://noersilo.wordpress.com/?p=161</guid>
		<description><![CDATA[
Pada suatu malam, saat aku masih berusia 12 tahun menghampiri ibu yang berada di dapur, ia sedang menyiapkan makan malam. Kemudian aku menyerahkan secarik kertas yang baru saja selesai aku tulis. Setelah ibu mengeringkan tangannya,ia membaca tulisanku,yaitu:


 Untuk Memotong rumput minggu Ini Rp 7500
Untuk Membersihkan kamar minggu ini Rp 5000
Untuk Pergi ke warung kalau disuruh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" src="http://i298.photobucket.com/albums/mm266/susilo_pras/MamaSaid.jpg" alt="" width="165" height="222" /></p>
<p style="text-align:justify;">Pada suatu malam, saat aku masih berusia 12 tahun menghampiri ibu yang berada di dapur, ia sedang menyiapkan makan malam. Kemudian aku menyerahkan secarik kertas yang baru saja selesai aku tulis. Setelah ibu mengeringkan tangannya,ia membaca tulisanku,yaitu:</p>
<p><span id="more-161"></span></p>
<ul>
<li> Untuk Memotong rumput minggu Ini Rp 7500</li>
<li>Untuk Membersihkan kamar minggu ini Rp 5000</li>
<li>Untuk Pergi ke warung kalau disuruh ibu Rp 10000</li>
<li>Untuk Menjaga rumah ketika ibu pergi Rp 5000</li>
<li>Untuk Membuang sampah setiap harinya Rp 15000</li>
<li>Untuk Nilai yang bagus di sekolah Rp 25000</li>
<li>Untuk Menyapu dan mengepel rumah Rp 12500</li>
<li>Untuk Menggantikan ibu mengerjakan pekerjaan rumah ketika ibu sakit Rp 10000</li>
<li>Jumlah Utang Ibu Rp 90000</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Kemudian Ibu memandangku anaknya yang berdiri dengan penuh harap, dan berbagai kenangan terlintas dalam pikirannya. Kemudian Ibu mengambil balpoint, membalik kertasnya lalu menuliskan:</p>
<ul>
<li>Untuk 9 bulan ketika Ibu mengandung kamu selama kamu tumbuh dalam perut Ibu, GRATIS</li>
<li>Untuk Semua malam ketika Ibu menemani kamu, mengobati kamu, dan mendoakan kamu, GRATIS</li>
<li>Untuk Semua saat susah, dan semua air mata yang kamu sebabkan selama ini, GRATIS</li>
<li>Untuk Semua malam yang dipenuhi rasa takut dan rasa cemas di waktu yang akan datang, GRATIS</li>
<li>Untuk mainan, makanan, baju dan untuk menyeka hidungmu serta memandikanmu sewaktu masih kecil, GRATIS</li>
<li>Anakku dan kalau kamu menjumlahkan semuanya karya cinta sejati Ibu adalah GRATIS</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Setelah selesai membaca apa yang ditulis oleh Ibu, aku menatap wajah ibu dan berkata, “IBU AKU SAYANG SEKALI PADA IBU”<br />
Dan kemudian aku ambil balpoint dan menulis dengan huruf besar-besar “LUNAS”</p>
<p style="text-align:right;">di kutip dari forum <a href="http://www.kaskus.us">kaskus.us</a></p>
<h3>Silahkan baca juga :</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://kamar.noersilo.web.id/2009/07/iburenungan-4/" title="[IBU] Renungan IV">[IBU] Renungan IV</a></li>
<li><a href="http://kamar.noersilo.web.id/2009/06/renungan-iii/" title="IBU [Renungan III]">IBU [Renungan III]</a></li>
<li><a href="http://kamar.noersilo.web.id/2008/12/renungan-1/" title="IBU [Renungan 1]">IBU [Renungan 1]</a></li>
<li><a href="http://kamar.noersilo.web.id/2009/02/rahasia-kecerdasan-yahudi/" title="(benerkah)Rahasia Kecerdasan Yahudi ??">(benerkah)Rahasia Kecerdasan Yahudi ??</a></li>
<li><a href="http://kamar.noersilo.web.id/2008/12/mempersiapkan-akhir-tahun/" title="Mempersiapkan Akhir Tahun">Mempersiapkan Akhir Tahun</a></li>
</ul>
<hr /><small>Copyright &copy; 2008<br /> This feed is for personal, non-commercial use only. <br /> The use of this feed on other websites breaches copyright. If this content is not in your news reader, it makes the page you are viewing an infringement of the copyright. (Digital Fingerprint:<br /> )</small> <img src="http://kamar.noersilo.web.id/wp-content/plugins/feed-statistics.php?view=1&post_id=161" width="1" height="1" style="display: none;" /><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fkamar.noersilo.web.id%2F2009%2F04%2Frenungan-ii%2F&amp;linkname=IBU%20%5BRenungan%20II%5D"><img src="http://kamar.noersilo.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kamar.noersilo.web.id/2009/04/renungan-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IBU [Renungan 1]</title>
		<link>http://kamar.noersilo.web.id/2008/12/renungan-1/</link>
		<comments>http://kamar.noersilo.web.id/2008/12/renungan-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Dec 2008 23:00:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>noersilo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[bunda]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[mama]]></category>
		<category><![CDATA[mother]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://noersilo.wordpress.com/?p=159</guid>
		<description><![CDATA[
Waktu kamu berumur 1 tahun, dia menyuapi dan memandikanmu, sebagai balasannya, kau menangis sepanjang malam
Waktu kamu berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan, sebagai balasannya, kamu kabur waktu dia memanggilmu
Waktu kamu berumur 3 tahun, dia memasak semua makananmu dengan kasih sayang,  sebagai balasannya, kamu buang piring berisi makananmu ke lantai


Waktu kamu berumur 4 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" src="http://i298.photobucket.com/albums/mm266/susilo_pras/ibu-2.jpg" alt="" width="172" height="222" /></p>
<p style="text-align:justify;">Waktu kamu berumur 1 tahun, dia menyuapi dan memandikanmu, sebagai balasannya, kau menangis sepanjang malam</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu kamu berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan, sebagai balasannya, kamu kabur waktu dia memanggilmu</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu kamu berumur 3 tahun, dia memasak semua makananmu dengan kasih sayang,  sebagai balasannya, kamu buang piring berisi makananmu ke lantai</p>
<p style="text-align:justify;">
<p><span id="more-159"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Waktu kamu berumur 4 tahun, dia memberimu pensil warna , sebagai balasannya, kamu corat coret tembok rumah dan meja makan</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu kamu berumur 5 tahun, dia membelikanmu baju-baju mahal dan indah, sebagai balasannya, kamu memakainya bermain di kubangan lumpur</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi ke sekolah, sebagai balasannya,  kamu berteriak &#8220;NGGAK MAU &#8230;.!&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu berumur 7 tahun, dia membelikanmu bola, sebagai balasannya kamu melemparkan bola ke jendela tetangga</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu berumur 8 tahun, dia memberimu es krim, sebagai balasannya,  kamu tumpahkan dan mengotori seluruh bajumu</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu kamu berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus-kursusmu, sebagai balasannya, kamu sering bolos dan sama sekali nggak mau belajar</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu kamu berumur 10 tahun, dia mengantarmu kemana saja, dari kolam renang sampai pesta ulang tahun,  sebagai balasannya, kamu melompat keluar mobil tanpa memberi salam</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu kamu berumur 11 tahun, dia mengantar kamu dan temen-temen kamu kebioskop, sebagai balasannya, kamu minta dia duduk di barisan lain</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu kamu berumur 12 tahun, dia melarangmu melihat acara tv khusus untuk orang dewasa,  sebagai balasannya, kamu tunggu sampai dia keluar rumah</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu kamu berumur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong rambut karena sudah waktunya, sebagai balasannya, kamu bilang dia tidak tahu mode</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu kamu berumur 14 tahun, dia membayar biaya untuk kemahmu selama liburan,  sebagai balasannya, kamu nggak pernah menelponnya</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu kamu berumur 15 tahun, pulang kerja dia ingin memelukmu,</p>
<p>sebagai balasannya, kamu kunci pintu kamarmu</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu kamu berumur 16 tahun, dia mengajari kamu mengemudi mobil, sebagai balasannya, kamu pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa mempedulikan kepentingannya</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu kamu berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telpon yang penting , sebagai balasannya, kamu pakai telpon nonstop semalaman.</p>
<p style="text-align:justify;">waktu kamu berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kamu lulus SMA , sebagai balasannya , kamu berpesta dengan teman-temanmu sampai pagi</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu kamu berumur 19 tahun, dia membayar semua kuliahmu dan mengantarmu</p>
<p>ke kampus pada hari pertama, sebagai balasannya, kamu minta diturunkan jauh dari pintu gerbang biar nggak malu sama temen-temen</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu kamu berumur 20 tahun, dia bertanya &#8220;Darimana saja seharian ini?&#8221;,  sebagai balasannya, kamu menjawab &#8220;Ah, cerewet amat sih, pengen tahu urusan orang&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu kamu berumur 21 tahun, dia menyarankanmu satu pekerjaan bagus untuk karier masa depanmu, sebagai balasannya, kamu bilang &#8220;Aku nggak mau seperti kamu&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu kamu berumur 22 tahun, dia memelukmu dan haru waktu kamu lulus</p>
<p>perguruan tinggi, sebagai balasanmu, kamu nanya kapan kamu bisa main ke luar negeri</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu kamu berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu, sebagai balasannya, kamu ceritain ke temanmu betapa jeleknya furniture itu</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu kamu berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya</p>
<p>tentang rencana di masa depan, sebagai balasannya, kamu mengeluh</p>
<p>&#8220;Aduh gimana sih kok bertanya seperti itu&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu kamu berumur 25 tahun, dia membantumu membiayai pernikahanmu, sebagai balasannya kamu pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu kamu berumur 30 tahun, dia memberimu nasehat bagaimana merawat bayimu, sebagai balasannya kamu katakan &#8220;Sekarang jamannya sudah beda&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu kamu berumur 40 tahun, dia menelponmu untuk memberitahu pesta salah satu saudara dekatmu, sebagai balasannya kamu jawab &#8220;Aku sibuk sekali, nggak ada waktu&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Waktu kamu berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu, sebagai balasannya, kamu baca tentang pengaruh negatif orang tua yang numpang tinggal di rumah anaknya</p>
<p style="text-align:justify;">dan hingga SUATU HARI, dia meninggal dengan tenang, dan tiba-tiba kamu</p>
<p>teringat semua yang belum pernah kamu lakukan, dan itu menghantam</p>
<p>HATIMU bagaikan pukulan godam</p>
<p style="text-align:justify;">SEKARANG&#8230; !!!! saat ibu kita masih hidup, sekarang saat ibu kita masih bias menemani kita.. tidakkah terbesit keinginan untuk membuatnya bahagia..</p>
<p style="text-align:justify;">ada banyak cara untuk membuatnya bahagia, kita tidak perlu memikirkan yg jauh2, seperti menyuapinya makan atau yg lainnya.. dgn memakai polo ini di hari ibu nanti, saya rasa itu sudah bisa membuatnya bahagia.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" src="http://i298.photobucket.com/albums/mm266/susilo_pras/love-1.gif" alt="" width="79" height="79" /></p>
<h3>Silahkan baca juga :</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://kamar.noersilo.web.id/2009/07/iburenungan-4/" title="[IBU] Renungan IV">[IBU] Renungan IV</a></li>
<li><a href="http://kamar.noersilo.web.id/2009/06/renungan-iii/" title="IBU [Renungan III]">IBU [Renungan III]</a></li>
<li><a href="http://kamar.noersilo.web.id/2009/04/renungan-ii/" title="IBU [Renungan II]">IBU [Renungan II]</a></li>
</ul>
<hr /><small>Copyright &copy; 2008<br /> This feed is for personal, non-commercial use only. <br /> The use of this feed on other websites breaches copyright. If this content is not in your news reader, it makes the page you are viewing an infringement of the copyright. (Digital Fingerprint:<br /> )</small> <img src="http://kamar.noersilo.web.id/wp-content/plugins/feed-statistics.php?view=1&post_id=159" width="1" height="1" style="display: none;" /><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fkamar.noersilo.web.id%2F2008%2F12%2Frenungan-1%2F&amp;linkname=IBU%20%5BRenungan%201%5D"><img src="http://kamar.noersilo.web.id/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kamar.noersilo.web.id/2008/12/renungan-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
